Archive for January, 2009
Hari sabtu kemaren waktu gw nungguin si om di pelataran gedung BEI (Bursa Efek Indonesia) yang termasuk salah satu gedung di SCBD (Sudirman Central Bussiness District) yang megah dan feodal itu, gw sama si enti punya ide iseng ditengah suntuknya nungguin si om yang tak kunjung turun dari BEI tower yang entah berada di lantai berapa. Ide itu adalah FOTO!
Ide itu muncul juga dikarenakan gedung yang berada di seberang kami yang tidak lain adalah Mall Pacific Place telah mengeluarkan kerlap kerlip cahaya lampu yang ditata sedemikain rupa sehingga terlihat sangat cantik saat menjelang malam. Saat itu waktu menunjukan pukul 18.30 WIB, kami yang sudah merasa lelah ingin sekali menutup hari dengan mengabadikan waktu (berfoto). Jeprett…. dapet deh satu foto berlatar belakang fasad Mall Pasific Place beserta keindahan kerlip lampu-lampu hiasnya, tidak puas satu foto, kami mengambil foto lagi dengan pose yang tidak jauh berbeda. Namun, ketika ingin mengambil foto ke tiga, tiba-tiba teriakan satpam menyentak kami.
Satpam: Mbak mbak.. ga boleh foto!
Gue dan enti: napa pak?
Satpam : ya ga boleh, emang aturannya gitu
Gue : lha ga bolehnya emang alasannya apa?
Satpam: ya karena ini daerah vital
Enti: orang Cuma pake hape kok
Satpam: iya sama aja, pokoknya daerah ini ga oleh difoto, pasific place jg ga boleh, bahkan halte nya juga ga boleh difoto!
Sambil manyun dan kembali duduk di entrance BEI, gw mulai berpikir, bahwa ironis sekali suatu karya arsitektur yang bisa dinilai bagus oleh masyarakat tidak bisa dijadikan urban place, padahal karya arsitektur bisa dibilang sukses apabila karya tersebut sudah bisa menjadi urban place, seperti di Australia, keberadaan Sidney Opera House tidak lagi sekadar tempat orang menonton opera, namun karya tersebut sudah menjadi urban place karena orang-orang yang berkunjung kesana mayoritas ingin mengambil foto berlatarkan bangunan tersebut, Yokohama Ferry Terminal di Jepang juga demikian, bukan sekadar pelabuhan, keberadaannya bisa dinikmati sebagai karya arsitektur bernilai seni tinggi sehingga para turis gemar mengambil foto di sana.
Kapan kah Indonesia bisa seperti itu? Kapankah karya arsitektur bisa secara ”bebas” diapresiasi masyarakat? Kapan kah karya arsitektur yang bagus bisa ”mendunia”, tidak sekadar menjadi konsumsi masyarakat arsitektur yang hanya bisa dilihat di majalah-majalah arsitektur?
Gue sebagai bagian dari masyarakat arsitektur di Indonesia cukup ironis akan hal ini, karena suatu saat ketika gue dikasih kesempatan untuk merancang bangunan publik, gw akan sangat terhormat apabila banyak orang datang untuk mengambil foto berlatarkan desain gue, dan tentunya akan turut sedih apabila orang-orang yang ingin berfoto malah ”diusir” satpam.
January 27, 2009 at 7:43 am
Ini menjadi percakapan yang cukup membuat kami galau. Karena beberapa keburukan, katakanlah aib secara sempurna tertutupi oleh tampilan kami yang menghipnotis orang sehingga membuat mereka berpikir kami adalah sempurna, atau setidaknya.. baik-baik.
Sungguh, betapa sulit ini kami hadapi, karena.. akan lebih baik orang brengsek terlihat brengsek. Daripada orang brengsek terlihat sangat baik di luarnya. Pastinya, orang yang selama ini terlihat sempurna juga punya sisi brengsek dalam dirinya, bahkan lebih brengsek dari yang bisa mereka bayangkan.
Siapa sih yang nggak mau jadi baik, siapa juga yang mau dibilang munafik, namun sekali lagi memang tidak ada yang sempurna. Terkadang kebaikan dan kebrengsekan tidak bisa direncanakan akan mudah atau sulit terlihat atau terpublikasikan. Siapapun tidak ingin munafik, semua ingin dianggap sempurna dan ingin dimaklumi saat berbuat kesalahan. Siapapun itu.. mereka maupun kami juga ingin selalu dimaklumi dan tidak ingin dihakimi.
Namun, lihatlah lebih proporsional, terkadang kekaguman terhadap sosok makhluk bisa menyeret kita ke jurang kebencian. Karena kita menilai berorientasi kepada sosok/personal bukan berorientasi kepada sikap maupun sifatnya.
Intinya, jangan pernah kagum maupun benci pada sosok, kagum dan bencilah kepada sikap atau perbuatan nya, jika anda tidak ingin kecewa secara berlebihan.
January 26, 2009 at 4:02 pm
Kalaupun hari itu tak pernah ada..
Kita pun belum tentu tidak begini
Sekalipun ingin sekali kita sangkal hari itu hari indah
Dan ingin sekali kita sangkal hari ini tidak begini
Kalaupun hari itu kita tidak berjanji
Kita pun belum tentu se-bahagia ini
Sekalipun selalu saja kita sesali
Dan sangkali semua kegalauan ini
Kalaupun hari itu aku tidak meraihmu
Belum tentu aku tau apa yang ingin ku tuju
Belum tentu aku bisa sebaik yang kau tau
Belum tentu ada lagi waktu untuk menggapaimu.
January 26, 2009 at 5:01 am

Proyek ini merupakan proposal desain untuk tugas studio 1 yang TOR nya adalah demikian:
- Membangun community place di kawasan hijau Kota Bandung yang itu Babakan Silihwangi (yang sebentar lagi akan dibangun Mall oleh pemerintah)
- Tidak mengeksploitasi kawasan tersebut dengan mempertahankan sebanyak mungkin ke”hijau-annya”
- Tidak boleh menebang satu pun Pohon yang berada di dalam nya.
maka konsep saya adalah demikian:
- “membumi” secara arsitektur dengan cara melebur kepada alam
- “membumi” secara sosial dengan cara melebur dengan komunitas
Pengaplikasian konsep membumi secara arsitektural adalah dengan cara menerapkan prinsip-prinsip arsitektur sunda dalam merancang. Langkah langkahnya adalah: membuat rumah panggung (dimana daerah “kolong” tetap bisa bermanfaat sebagai sirkulasi udara dan daerah resapan air), pemolaan massa secara organik, tidak mengubah bentuk kurva kontur, dan mentransformasikan “anyaman” kedalam bentuk kisi kisi kayu sebagai bukaan yang dapat memudahkan peradaaran udara di dalam bangunan.
Sedangkan aplikasi untuk konsep “membumi” secara sosial yang akan berguna untuk membuat Community center ini berhasil yaitu dengan cara: menerapkan pola tatanan massa arsitektur sunda, dimana bentuk nya adalah radial dengan pusat ruang bersama (pada desain ini ditransformasikan kedalam ruang pertunjukan bersama) dan penerapan Zonasi dimana tingkatannya adalah ruang bersama sebagai daerah publik, ruang pertunjukan tertutup sebagai daerah semi privat, dan bangunan-bangunan komunitas sebagai daerah privat.
January 20, 2009 at 2:08 am

Waktu presentasi tugas ini, yaitu Jumat, 16 januari 2009, pak Baskoro Tedjo, selaku pembimbing gue, hanya memberi waktu 5 menit untuk mempresentasikan desain ini. Dan gue dapet urutan ke tiga (sesuai undian) dari keempat personel kelompok Baskoro Tedjo.
Sebelum gue presentasiin ke elo semua, gw kasih tau dulu TOR nya ya..
- Revitalisasi kawasan braga yang saat ini kondisi nya “Sekarat” (tidak terawat, dan hampir mati) dan tidak lagi dihargai sebagai tempat yang mempunyai nilai sejarah.
- Membangun Mix-used building baru pada kawasan bersejarah yaitu Braga
- Mix-used building dengan komposisi: 40% commercial, 20% office, 40% residential
lalu, konsep gue seperti ini:
gue menawarkan penggabungan 2 konsep, atau reconciling two large ideas..
ide pertama menawarkan solusi untuk permasalahan Braga dilihat dari sudut pandang Urban Planning, konsep ke dua adalah Ide pribadi dari gue untuk “menghidupkan” braga .
Ide pertama yang gw sebut sbg problem solving adalah: Making a new district.
Salah satu kelemahan braga yang sangat menonjol adalah, keabsenan konsep district. Braga yang dikenal sebagai kawasan komersil tidak mempunyai keunikan penawaran untuk dibelanjakan, terlalu banyak jenis dagangan yang dijual sehingga masyarakat tidak mempunyai alasan yang kuat untuk mengunjungi Braga.
Dari permasalahan ini, saya ajukan untuk membuat sebuah kawasan komersial dengan new district concept, yaitu Antique district. Antique district terinspirasi oleh eksotisme braga sebagai kawasan yang ”antik”. Untuk itu, comercial used pada perencanaan saya akan menawarkan segala hal yang berhubungan dengan antik. Seperti pameran, counter-counter barang antik, sampai apresiasi barang antik untuk kalangan menengah ke bawah yang disajikan dalam bentuk “antique parade” yang hanya diadakan pada akhir pekan (agar dirindukan) mengingat sesuatu yang antik itu dicari karena dirindukan.
Untuk hotel dan rental office, temanya masih berkaitan dengan hal yang antik, ditawarkan disini, hotel dengan tema nostalgia dan rental office dengan tema berkaitan.
Ide selanjutnya adalah, merupakan Sikap saya untuk menghormati bangunan tua: “put the black inside the white”
Bangunan-bangunan bersejarah di Braga merupakan bangunan dengan style art deco yang dominan berwarna putih. Dalam desain ini, saya ingin berpuisi dengan warna yaitu dengan cara menghitamkan warna bangunan. Tujuannya adalah untuk menjadi background dari bangunan bersejarah. Karena putih akan terlihat lebih putih jika disandingkan dengan warna yang gelap, dengan menghitamkan warna, saya ingin memperkuat bangunan bersejarah tersebut dengan menggelapkan diri. Namun, dengan menjadi “hitam” di antara putih pun mempunyai keuntungan tersendiri bagi desain saya karena saya menawarkan “perbedaan” dan pengalaman visual yang baru nan berbeda dengan lain.
January 19, 2009 at 12:01 pm
Barusan waktu chat sama ajie (btw, chat itu b.indonesia nya apa ya?), dia kasih komen tentang tulisan gw di kolom “tentang gue” (via chat), dia bilang, “shofi, tentang gue nya koq dikit banget..?” (langsung dikutip dari rekaman chat nya), dan gue jawab.. emang gue gatau lagi mau nulis apa tentang gue.. hehe..
Emang sih jujur, bukannya gue nggak mengenal diri sendiri, tapi gue memang selalu kesulitan saat harus mendeskripsikan kepribadian diri. Terutama pas interview kerja yang selalu… aja nyuruh gue sebutin 10 kekurangan dan 10 kelebihan.. sebel juga, selain kenapa harus 10?? emang punya satu kelebihan aja ga boleh, ato, kekurangan ga mesti harus 10, satu kekurangan juga bisa bikin orang berbuat kebodohan sepanjang hidupnya. Ya, emang pembicaraan tadi bikin gue lagi-lagi mikir… gue ini kayak apa ya? Karena waktu nulis “tentang gue”, jujur aja gue bolak balik ngedit tulisan tersebut karena takut takabur, takut dibilang minder juga, takut juga gue ternyata di persepsi orang tidak seperti itu. Nah.. tapi, gue coba mengingat, apa aja yang dikatakan orang “tentang gue”, walopun jarang bagusnya tapi minimal mereka perhatian untuk kasih masukan ke gue.. oke, kita mulai saja
Tentang gue:
- Kata Ibu: yang paling gue inget adalah kata ibu gw yang selalu mengatakan gue itu keras kepala, letoy (letoy itu entah bahasa apa, artinya kurang keseimbangan tubuh sehingga mudah jatuh.. jadi sering kali gue kejedot, kesandung, kepleset, keseleo, dan sebagainya) dan apalagi ya? Emak gue juga bilang.. gue gak betahan (terutama saat diajak pergi, gue selalu aja rewel minta pulang, haha)
- Kata kakak gue: katanya gue cuek, songong, dan tetep… keras kepala
- Kata siapa lagi ya.. ha.. nih yang paling anget.. kata temen kuliah gue di S2, namanya mas derrie, katanya gue terlalu saklek..(umm.. mungkin bukan saklek mas..tapi teguh pada prinsip!halah ngeles ajah) sehingga pantas dikasih tag “my way is the way” haha.. dan teman-teman gue pun mengamininya..
- Kata Intan temen sebangku gw waktu di Tsanawiyah, gue masih inget… dia pernah ngomong gini: “jadi elo tuh enak ya.. ga usah belajar aja, bisa ngerjain ulangan” hahaha…. yang gue inget bukan semata-mata karena pujiannya, tapi gw masih heran aja sama pernyataannya karena ngerjain ulangan emang ga harus belajar, kecuali ngerjain ulangan dengan menjawab benar semua soal yang ada di ulangan tersebut!heheheheh
- Kata miko (cowok pertama yang nembak gue waktu SMA) saat gue tanya kenapa dia suka sama gue, dan dia menjawab demikian: “lo tuh orangnya walopun pake jilbab, tapi tetep gaul dan ngerti musik” (errr…errrrr..adakah kata-kata yang lebih penting diucapkan saat nembak cewek selain kata-kata tersebut?)
- Kata cowok gue: “mia tuh… mm… m… apa ya? mm… mmm…. gimana yah?… mm.. banyak deh… duh.. apa yah,…. “yak! Waktu anda habis bung! (dia selalu kesulitan mendeskripsikan gue, cuma dia sering banget bilang gue itu O’on, dan sering mengatakan: “inget, dungu sama lugu itu bedanya tipis!” (ampuuun oooom….)
- Kata Eva (temen kos waktu di malang), kata dwi (temen di brawijaya), kata iban (temen di kampus sekarang): mereka mengatakan hal yang sama.. yaitu : tampang gue jutek abiiiissss….
- Kata Pri (temen SMA) : “Mia jimeeeeeet, jilbab metaaal…..” (ga ngerti gua maksud dia apah??)
- Kata ajie, guru 3d max gue… : “bukannya shofi selalu pinter dalam segala hal.. belajar aja cepet.. “ (duh, ajie.. jangan ngomong gitu ahh… jadi malu nih… )
- kata temen-temen kecil gue(tetangga) yang sekarang udah pada gede : gue mirip pemeran rika akana di film jepang yang judulnya “tokyo love story” (bweheheheheehhehe…. maca ci??)
kira-kira itulah persepsi orang tentang gue.. ya, siapapun berhak menilai, boleh menjustifikasi seperti apa gue ini, semoga dengan semua yang dikatakan orang tentang gue, bisa selalu gue jadikan alat untuk gue berintrospeksi diri dan terus belajar menjadi orang yang lebih baik. Thx all…
January 19, 2009 at 1:16 am
kemaren pas jalan-jalan ke ci-walk sama si endah (hm, tapatnya ga jalan-jalan si, tapi nyari sendal, karena sendal gue putus di tengah jalan), gw ketemu sama mojang-mojang cakeup yang menamakan diri mereka “duta bahasa, Jawa Barat”. dengan senyum manis dan selempang jabatan bak miss or mr. Universe, salah satu dari mereka mendekati kami dan memberikan sticker yang berisikan transletan istilah-istilah yang biasa kita pake waktu kita bergaul sama komputer. nih.. gw mau bagi ke elo semua..
ehm.. ehm.. (Sorry, agak serek suara gue)
Glosarium Teknologi Informasi
1. account : akun, rekening
2. disk: cakram
3. download: unduh (nyang ‘ni gw mah udah tau…hehe)
4. error: galat
5. e-mail: pos- el
6. file: berkas
7. gadget: acang (kok kayak nama karyawan kemahasiswaan kampus gw..??)
8. homepage: laman (ga pake “ha” lho..)
9. key board: papan tombol
10. link: tautan
11. mouse: tetikus
12. networks: jejaring
13. online: daring (dalam jaringan) —-> kok mulai jayus ya?
14. off line: luring (luar jaringan)—> tdk ada komentar
15. upload: unggah
yah.. teman-teman… hayo kita lestarikan bahasa bangsa kita yang sudah mulai krisis identitas ini…
January 18, 2009 at 11:01 pm
Older Posts
People feedback