Posts filed under ‘My Architecture’
Mixed-use development : minimalisir mobilitas
Hai semua, ketemu lagi dengan karya arsitektur nih.. kali ini adalah sumbangsih pemikiran untuk mengatasi tingginya mobilitas di kota-kota besar dalam bentuk pengembangan mixed-use (pemusatan beberapa kegiatan di dalam satu kompleks bangunan). Ini merupakan tugas Studio Arsitektur pada semester lalu, yang bukan hanya menguras otak, tapi juga menguras dana dalam prosesnya.. hehehe… (yah… gimana nggak, wong tiap minggu musti ngeprin gambar A3 buat asistensi, ngabisin banyak tinta, percobaan maket, survei sana sini, ngeplot full warna sampe 2 tahap, beli makanan pas lembur.. loh.. hehe, yah gitu lah). Ordernya cukup sulit, tapak nya di jl. Kebon Kawung sampe jl. Kebon jati (mencakup pemanfaatan stasiun dan terminal sebagai generator transportasi untuk meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor).
Sketch up asiik..
Baru belajar sketch up.. asyik ternyata.. apalagi bagi orang2 yang sketsa freehand nya ancur kayak gue..hehehe, di sketch up selain modelling lebih cepet, yang paling gw suka adalah.. ga perlu dirender!! untuk gw yang sebenernya hanya perlu gambar konseptual untuk presentasiin ide, gambar kasar sketch up yang dibumbui style2 sketsa sudah cukup representatif kok.. jadi tinggal export ke JPEG dan.. tara… jadi deh buat presentasi!


Memang sih, di awal belajar.. susah banget menghilangkan paradigma modelling dengan 3d’s max atau Autocad.. karena prinsip modelling nya beda, padahal lebih simple.. tapi karena selalu mengait2kan dengan cara kerja di 3d’s max.. gw rada lemot juga pas awal-awal.. tapi Alhamdulillah, setelah sebulan.. hidup gw jadi lebih mudah karena sketch up (berlebihan neh) hehe.. hemat waktu bo..
btw,, karena ga ada mas penguin.. gw jadi bingung naro gambar biar bisa diklik, yoopo iki… lali aku..
Rumah impian
Waktu masih jadi pengangguran, iseng ngedesain rumah tinggal.. anggaplah rumah impian. Sambil belajar 3d’s max (waktu itu masih bener-bener belajar dan memang minim pengetahuan 3d, dan sekarang tetep blom jago juga), jadi deh kayak begini..
(more…)
New Project, so anthusiastic
Kuliah perdana semester 2 langsung dikagetkan dengan tugas yang diberi tenggat waktu hanya 6 jam. Weleh weleh.. ini adalah shock therapy buat gue dan temen-temen. Proyeknya cukup menantang, yaitu membuat mix-used transitecture, yaitu merancang sebuah terminal alat transportasi yang didukung dengan fungsi lain berupa fungsi komersil maupun fungsi penginapan. Alat transportasi nya bisa berupa kereta api, Bus, kapal laut, maupun pesawat. Untuk perdana nya gw ambil contoh transportation hub nya WTC karya Santiago Calatrava. Semoga gue bisa menaklukkan tugas ini sebaik Calatrava. Good luck for me..

Blend in into Nature : Sebuah Persuasi Untuk Membumi

Proyek ini merupakan proposal desain untuk tugas studio 1 yang TOR nya adalah demikian:
- Membangun community place di kawasan hijau Kota Bandung yang itu Babakan Silihwangi (yang sebentar lagi akan dibangun Mall oleh pemerintah)
- Tidak mengeksploitasi kawasan tersebut dengan mempertahankan sebanyak mungkin ke”hijau-annya”
- Tidak boleh menebang satu pun Pohon yang berada di dalam nya.
maka konsep saya adalah demikian:
- “membumi” secara arsitektur dengan cara melebur kepada alam
- “membumi” secara sosial dengan cara melebur dengan komunitas
Pengaplikasian konsep membumi secara arsitektural adalah dengan cara menerapkan prinsip-prinsip arsitektur sunda dalam merancang. Langkah langkahnya adalah: membuat rumah panggung (dimana daerah “kolong” tetap bisa bermanfaat sebagai sirkulasi udara dan daerah resapan air), pemolaan massa secara organik, tidak mengubah bentuk kurva kontur, dan mentransformasikan “anyaman” kedalam bentuk kisi kisi kayu sebagai bukaan yang dapat memudahkan peradaaran udara di dalam bangunan.
Sedangkan aplikasi untuk konsep “membumi” secara sosial yang akan berguna untuk membuat Community center ini berhasil yaitu dengan cara: menerapkan pola tatanan massa arsitektur sunda, dimana bentuk nya adalah radial dengan pusat ruang bersama (pada desain ini ditransformasikan kedalam ruang pertunjukan bersama) dan penerapan Zonasi dimana tingkatannya adalah ruang bersama sebagai daerah publik, ruang pertunjukan tertutup sebagai daerah semi privat, dan bangunan-bangunan komunitas sebagai daerah privat.
Reconciling two large ideas for Braga

Waktu presentasi tugas ini, yaitu Jumat, 16 januari 2009, pak Baskoro Tedjo, selaku pembimbing gue, hanya memberi waktu 5 menit untuk mempresentasikan desain ini. Dan gue dapet urutan ke tiga (sesuai undian) dari keempat personel kelompok Baskoro Tedjo.
Sebelum gue presentasiin ke elo semua, gw kasih tau dulu TOR nya ya..
- Revitalisasi kawasan braga yang saat ini kondisi nya “Sekarat” (tidak terawat, dan hampir mati) dan tidak lagi dihargai sebagai tempat yang mempunyai nilai sejarah.
- Membangun Mix-used building baru pada kawasan bersejarah yaitu Braga
- Mix-used building dengan komposisi: 40% commercial, 20% office, 40% residential
lalu, konsep gue seperti ini:
gue menawarkan penggabungan 2 konsep, atau reconciling two large ideas..
ide pertama menawarkan solusi untuk permasalahan Braga dilihat dari sudut pandang Urban Planning, konsep ke dua adalah Ide pribadi dari gue untuk “menghidupkan” braga .
Ide pertama yang gw sebut sbg problem solving adalah: Making a new district.
Salah satu kelemahan braga yang sangat menonjol adalah, keabsenan konsep district. Braga yang dikenal sebagai kawasan komersil tidak mempunyai keunikan penawaran untuk dibelanjakan, terlalu banyak jenis dagangan yang dijual sehingga masyarakat tidak mempunyai alasan yang kuat untuk mengunjungi Braga.
Dari permasalahan ini, saya ajukan untuk membuat sebuah kawasan komersial dengan new district concept, yaitu Antique district. Antique district terinspirasi oleh eksotisme braga sebagai kawasan yang ”antik”. Untuk itu, comercial used pada perencanaan saya akan menawarkan segala hal yang berhubungan dengan antik. Seperti pameran, counter-counter barang antik, sampai apresiasi barang antik untuk kalangan menengah ke bawah yang disajikan dalam bentuk “antique parade” yang hanya diadakan pada akhir pekan (agar dirindukan) mengingat sesuatu yang antik itu dicari karena dirindukan.
Untuk hotel dan rental office, temanya masih berkaitan dengan hal yang antik, ditawarkan disini, hotel dengan tema nostalgia dan rental office dengan tema berkaitan.
Ide selanjutnya adalah, merupakan Sikap saya untuk menghormati bangunan tua: “put the black inside the white”
Bangunan-bangunan bersejarah di Braga merupakan bangunan dengan style art deco yang dominan berwarna putih. Dalam desain ini, saya ingin berpuisi dengan warna yaitu dengan cara menghitamkan warna bangunan. Tujuannya adalah untuk menjadi background dari bangunan bersejarah. Karena putih akan terlihat lebih putih jika disandingkan dengan warna yang gelap, dengan menghitamkan warna, saya ingin memperkuat bangunan bersejarah tersebut dengan menggelapkan diri. Namun, dengan menjadi “hitam” di antara putih pun mempunyai keuntungan tersendiri bagi desain saya karena saya menawarkan “perbedaan” dan pengalaman visual yang baru nan berbeda dengan lain.





People feedback